UsahawanRemaja.Com | Usahawan Remaja | Usahawan

Friday, November 5, 2010

Kalimah Tauhid , tahmid dan ayat suci Al Quran pada koin dinar dan dirham

Pada awalnya umat Islam menggunakan emas dan perak berdasarkan beratnya dan Dinar Dirham yang digunakan merupakan cetakan dari bangsa Parsi.

Koin awal yang digunakan oleh umat Islam merupakan duplikat dari Dirham perak Yezdigird III dari Sassania, yang dicetak dibawah autoriti Khalifah Uthman, radiy’allahu anhu. Yang membezakan dengan koin aslinya adalah adanya tulisan Arab yang berlafazkan “Bismillah”. Sejak saat itu tulisan “Bismillah” dan sebahagian dari Al Qur’an menjadi suatu hal yang lazim ditemukan pada koin yang dicetak oleh Muslimin.


Sebagaimana telah diketahui bersama, bahwa standard dari koin yang ditentukan oleh Khalifah Umar ibn al-Khattab, berat dari 10 Dirham adalah sama dengan 7 Dinar (1 mithqal). Pada tahun 75 Hijriah (695 Masehi) Khalifah Abdalmalik memerintahkan Al-Hajjaj untuk mencetak Dirham untuk pertama kalinya, dan secara resmi beliau menggunakan standard yang ditentukan oleh Khalifah Umar ibn Khattab. Khalifah Abdalmalik memerintahkan bahwa pada tiap koin yang dicetak terdapat tulisan: “Allahu ahad, Allahu samad”. Beliau juga memerintahkan penghentian cetakan dengan gambar wujud manusia dan binatang dari koin dan menggantinya dengan huruf-huruf.



Perintah ini diteruskan sepanjang sejarah Islam. Dinar dan Dirham biasanya berbentuk bundar, dan tulisan yang dicetak diatasnya memiliki tata letak yang melingkar. Lazimnya di satu sisi terdapat kalimat “tahlil” dan “tahmid”, yaitu, “La ilaha ill’Allah” dan “Alhamdulillah” sedangkan pada sisi lainnya terdapat nama Amir dan tanggal pencetakkan; dan pada masa masa selanjutnya menjadi suatu kelaziman juga untuk menuliskan shalawat kepada Rasulullah, salallahu alayhi wa salam, dan terkadang, ayat-ayat Qur’an. Koin emas dan perak menjadi mata wang resmi hingga jatuhnya khilafah Islamiyah.

Imam Malik pernah ditanya tentang penggunaan kalimah ini pada koin - koin ini. Beliau berkata ulamak ulamak terdahulu dari kalangan sahabat, tabiin dan tabiin seorangpun tidak membantah pengunaannya bahkan digalakkan penggunaannya bagi menunjukkan penguasaan Islam keatas wilayahnya. Yakni bagi meninggikan kalimah Allah swt.

Isu masuk tandas tidak timbul, koin koin telah digunakan zaman berzaman, kalau dahulu dinar dan dirham disimpan dalam uncang, simpan dalam dompet, masuk tandas.

No comments:

Post a Comment